Rabu, 01 April 2026

MEMINDAHKAN KOLONI LEBAH TRIGONA KE KOTAK BUDIDAYA

Memindahkan lebah Trigona (kelulut) dilakukan dengan memindahkan ratu, telur (brood), dan propolis ke kotak budidaya (stup). Memindahkan lebah, sarang, dan madu bukanlah tugas yang mudah dan tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Selain berat dan potensi kerusakan pada sarang, hal ini juga berdampak besar pada lebah. Tingkat keberhasilan pemindahan lebah trigona dari alam atau log kayu ke kotak budidaya dipengaruhi oleh banyak hal, oleh karenanya sangat diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup agar lebah dapat berkembang dengan baik. Selain faktor keterampilan atau keahlian manusia, faktor lingkungan dan alam juga sangat berpengaruh.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pemindahan lebah trigona ke stup budidaya

1.         Waktu Pemindahan

Saat melakukan pemindahan koloni ke kotak budidaya, faktor alam perlu diperhitungkan, seperti keadaan iklim. Sebaiknya proses pemindahan tidak dilakukan saat musim hujan, dimana tingkat kelembaban sangat tinggi sehingga terkadang kotak budidaya terserang jamur. Namun sebaiknya dilakukan saat musim berbunga, sehingga lebah lebih cepat memperbaiki dan menyusun sarangnya yang baru di kotak budidaya. Waktu pemindahannya sebaiknya dilakukan pada sore hari, dimana pada waktu itu lebah pekerja lebih banyak berada di dalam sarang dan aktivitas lebah menurun, sehingga meminimalisisr lebah yang hilang. 

2.         Cara Pemindahan

-          Persiapan

Sebelum kita melakukan pemindahan lebah, terlebih dahulu kita mempersiapkan alat dan bahan yang kita butuhkan, agar saat pemindahan nantinya lebih mudah

Adapun alat dan bahan yang dipersiapkan adalah

1.       Log Koloni lebah

2.       Kotak budidaya koloni (stup)

3.       Alat Pelindung diri

4.       Alat Pembelah Kayu (Parang dan semacamnya)

5.       Alat Penyungkil (Pisau dan sejenisnya) 

-          Proses Pemindahan

1.       Lakukan pembukaan/pembelahan log koloni lebah secara hati-hati, agar telur yang ada dalam koloni tidak mengalami kerusakan.

2.       Setelah log terbuka/terbelah, diamkan beberapa saat, agar lebah tidak terlalu agresif, karena biasa lebah sensitif saat sarangnya diganggu.

3.       Siapkan kotak stup, letakkan dekat dengan log yang telah dibuka.

4.       Oleskan propolis pada bagian pintu masuk dari kotak budidaya. Ambil propolis (getah sarang) dari sarang lama dan oleskan di pintu masuk stup baru. Aroma ini akan memanggil koloni kembali

5.       Pindahkan sisir telur ke stup baru. Sertakan juga kantong polen dan madu, namun buang yang rusak/pecah agar tidak mengundang semut.

6.       Lakukan pemindahan ratu. Temukan ratu (biasanya di dekat telur muda) dan pindahkan ke stup baru.

7.       Jika terdapat anakan lebah pada sarang lama, sebaiknya di pindahkan kesarang baru

8.       Tutup rapat kotak baru, dan upayakan terhindar dari gangguan semut atau musuh alami lebah trigona.

9.       Jika ingin di[pindahkan ke tempat yang lebih tinggi, sebaiknya biarkan beberapa hari (3-7 hari). Hal ini dilakukan agar lebah telah mengenal sarang barunya, sehingga saat dipindahkan nantinya lebih cepat menyesuaikan.

10.   Bersihkan sarang lama, agar lebah tidak bingung menemukan sarang barunya.

 

Selasa, 31 Maret 2026

MEMBUAT DAN MEMILIH STUP BUDIDAYA LEBAH TRIGONA

Pengembangan budidaya lebah madu merupakan aktivitas pemeliharaan dan pengelolaan lebah dengan tujuan menghasilkan produk lebah sesuai harapan peternak. Dalam budidaya, selain lokasi dan ketersediaan pakan, stup menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Kotak lebah atau stup adalah salah satu peralatan utama dalam budidaya madu.

Lebah madu yang dibudidayakan membutuhkan sarang buatan sebagai tempat perlindungan dan tempat berkembang biak bagi koloni. Sarang buatan ini digunakan untuk membangun sarang, menaruh telur hingga menetas, merawat lebah muda, serta menyimpan cadangan makanan. Kondisi sarang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup lebah. Pembuatan stup dimulai dengan menyesuaikan bentuknya agar menyerupai sarang alami yang dibuat oleh lebah. Secara alami, lebah trigona biasanya bersarang di batang pohon atau bambu. Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan budidaya lebah trigona, sarang alami ini diadopsi dengan membuat sarang buatan menggunakan bahan dasar papan kayu atau bambu. Prinsip dalam pembuatan stup adalah menciptakan rumah atau sarang lebah yang senyaman mungkin agar lebah merasa betah dan proses pemanenan madu menjadi lebih mudah.

Model stup budidaya yang bisa digunakan secara umum terbagi 2 (dua), yaitu stup alami dan buatan. Kedua stup ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

1.         Stup Alami

Stup alami pada dasarnya adalah sarang lebah trigona yang diambil dialam, jadi tidak mengubah sarang labah tersebut, hanya merapikan model dan/atau memperbaikinya sesuai ukuran yang kita inginkan. Stup alami ini biasanya dari pohon kayu, kepala atau bambu yang merupakan habitat alami lebah trigona.

Stup yang diambil dari alam dirapikan atau dipotong sesuai ukuran yang kita inginkan. Sebaiknya tinggi stup 30 – 50 cm. Upayakan bagian atas stup dipasangkan toping agar lebih memudahkan dalam proses pemanenan.

2.         Stup Buatan

Stup buatan pada dasarnya adalah sarang lebah trigona yang dibuat sesuai keinginan, biasanya terbuat dari pohon (kayu bulat), papan/tripleks, Bambu, paralon dan lain-lain.

-          Pohon/Kayu bulat

Stup ini tergolong mudah dan murah dalam pembuatannya. Pohon atau kayu bulat dapat kita peroleh di alam, dengan ukuran dan model bervariasi. Dalam pemilihan bahan ini, sebaik kita ambil pohon atau kayu bulat dengan ukuran panjang 30 – 50 cm dengan diameter 20 – 25 cm.

Pohon atau kayu yang diambil kemudian di buat lubang pada bagian tengahnya, sebagia tempat lebah menyimpan telur, madu dan sebagainya. Setelah pohon atau kayu telah lubang, kebudian dibuatkan lubang kecil seukuran jari telunjuk pada bagian samping, sebagai pintu masuk keluar masuknya lebah. Posisi lubang keluar masuk ini dapat dibuat dibagian mana saja sesuai keinginan kita, dengan tetap memperhatikan nilai estetika.

-          Bambu

Pembuatan stup dari pohon bambu ini, tergolong sangat mudah, karena kita tinggal mengambil bambu sesuai dengan ukuran yang kita inginkan. Cara membuatnya pun tidak memerlukan keahlian khusus, kita tinggal memotong ruas bagian atas dan bawahnya, kemudian diberi lubang sebesar jari telunjuk pada bagian sisinya, sebagai tempat keluar masuknya lebah nanti pada saat dibudidaya.

-          Paralon

Pembuatan stup dari bahan paralon ini hampir sama dengan pembuatan stup dari bambu, kita tinggal memotong paralon sesuai dengan ukuran yang kita inginkan. Hanya saja pada bagian bawah sebaiknya di tutup menggunakan papan atau tripleks.

-          Papan/Tripleks

Penggunaan stup dari bahan kayu dan tripleks ini yang paling banyak di minati oleh para pecinta lebah trigona, karena model dan ukurannya dapat dibentuk sesuai selera kita. Ada beberapa model yang sering digunakan dalam pembuatan stup dari bahan kayu atau tripleks ini, antara lain :

1.       Model Horisontal

Model ini paling banyak digunakan oleh para pembudidaya lebah trigona, karena tidak memerlukan banyak tempat dan mudah di letaknya dimana saja. Ukuran kotanya pun bervariasi sesuai keinginan kita masing-masing. Kelebihan dari model ini, koloni lebah budidaya lebih mudah untuk di kontrol, sehingga kita dapat melihat dan mengetahui kondisi lebah trigona.

2.       Model Vertikal

Model ini juga tergolong banyak diminati oleh para pembudidaya lebah, karena lebih mudah dalam pemanenan madu nantinya. Cuma pada bagian atasnya sebaiknya dibuatkan semacam toping, agar lebih mudah pengontrolannya.

3.       Model Vertikal Susun

Model ini mirip dengan model vertikal, Cuma stup ini dibuat bersusun 2 atau 3, sehingga dinamakan vertikal susun. Stup model ini sangat cocok digunakan dilokasi dekat dengan hutan atau lokasi yang jarak jauh dari tempat tinggal kita. Stup ini tergolong susah dalam pengontrolannya. Kelebihan dari model ini akan mempermudah pembudidaya dalah melakukan pecah koloni nantinya.

 

Senin, 30 Maret 2026

MEMPEROLEH LEBAH TRIGONA

Untuk mendapatkan lebah Trigona, secara umum ada 2 (dua) cara yang bisa dilakukan, yaitu Mengambil dari alam dan membeli koloni siap budidaya. 

1. Mengambil Dari Alam 
Metode ini lebih ekonomis namun sangat membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan kesabaran. Pengetahun dasar tentang lebah trigona sangat diperlukan, khususnya mengenai habitat dan aktifitas lebah trigona itu sendiri. Keberadaan lebah trigona di Alam, tentu perlu pengetahun dan keterampilan dalam mendapatknya, terutama dalam mencari sarang lebah trigona tersebut. Sarang lebah trigona bisa kita jumpai pada pohon (kayu-kayuan, Mangga, Kelapa, bambu dan lain-lain). Lebah trigona juga dapat bersarang pada tiang-tiang rumah ataupun celah tembok rumah yang kosong. Oleh karena keberadaan sarang lebah trigona yang di alam cukup bervariasi, maka setidaknya ada 3 (tiga) cara yang dapat kita gunakan untuk memperoleh lebah trigona di alam. 
- Mengambil Langsung 
Metode ini dilakukan dengan cara mencari sarang lebah trigona langsung di alam baik di pohon yang    masih hidup maupun yang sudah mati, kemudian mengambil sarang tersebut sebagian atau        keseluruhan dengan cara menebang atau memotong kayu yang menjadi tempat trigona bersarang. 
Metode ini cukup beresiko mengingat jika sarang lebah berada pada pohon besar yang masih hidup, ataupun pohon tersebut bertuan. 

- Perangkap 

Metode ini dilakukan dengan cara memasang stup koloni yang kosong atau potongan kayu yang berlubang (sebaiknya bekas koloni) di tempat yang sering di datangi lebah trigona atau dekat dari sumber pakan lebah trigona. Tingkat keberhasilan dari metode ini tergolong rendah serta sangat dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Perangkap yang dipasang sesering mungkin untuk diperiksa dan/atu bila perlu di pindahkan jika sudah terlalu lama. 
 Metode ini sebaiknya dilakukan saat musim berbunga, sehingga aktivitas lebah trigona lebih ketahuan dan juga, umumnya pada musim ini beberapa lebah trigona akan melakukan pembentukan koloni baru, sehingga mencari sarang yang lebih dekat dari sumber pakan. 
- Pencangkokan koloni 
 Metode ini pada prinsipnya mirip dengan metode perangkap. Cuma pada metode ini terlebih dahulu kita harus menemukan sarang lebah trigona, terutama pada tempat yang tidak dapat kita lakukan pemotongan atau pembongkaran pada sarang lebah trigona tersebut. Kotak stup yang ada kita pasang dihubungkan langsung dengan corong propolis yang merupakan pintu keluar masuk dari lebah trigona tersebut, sehingga lebah yang keluar masuk akan terbiasa melewati kotak perangkap yang kita buat, dan pada akhirnya akan mengisi kota stup yang kita buat. 
Metode ini sangat memerlukan kesabaran dan ketekunan, karena memerlukan waktu yang sangat lama serta sesering mungkin dilakukan pengontrolan pada kotak stup yang kita pasang. 

2. Membeli Koloni 
Metode ini adalah yang terbaik dan tercepat dari sekian metode yang ada, karena kita dapat memilih koloni lebah trigona yang telah mapan. Pembelian lebah trigona dapat dilakukan melalui komunita pembudidaya lebah trigona, atau marketplace online. 
Dalam membeli atau memilih koloni lebah trigona, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 
- Jenis lebah trigona 
- Umur koloni dalam kotak budi daya 
- Keberadaan Telur lebah 
- Keberadaan Ratu lebah yang di tandai dengan adanya telur muda pada koloni tersebut



Minggu, 29 Maret 2026

PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA LEBAH TRIGONA

Budidaya adalah usaha terencana dalam pemeliharaan dan pengembangbiakan sumber daya hayati (tanaman atau hewan) untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis, seperti makanan, bahan baku, atau hiasan. Kegiatan ini mencakup persiapan, pemeliharaan, hingga panen untuk memenuhi kebutuhan manusia dan meningkatkan pendapatan. Keberhasilan budidaya dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah Pemilihan atau Penentuan lokasi ternak atau budidaya. 
 Pemilihan lokasi Budidaya lebah Trigona (lebah tanpa sengat) sangat fleksibel, dapat dilakukan di sekitar permukiman, pekarangan rumah, perkebunan, hingga lahan pasca tambang yang memiliki vegetasi cukup. Lokasi ideal memerlukan sumber nektar dan polen yang melimpah (tanaman berbunga, pohon buah) dan terhindar dari pestisida. 
Prinsip beternak atau budidaya pada dasarnya adalah mendekatkan sumber pakan atau pakan pada objek ternak, sehingga dalam memilih atau menentukan lokasi budidaya khususnya lebah trigona sumber pakan berupa nektar, resin dan polen menjadi faktor utama. Secara rinci lokasi pengembangan lebah trigona khususnya Tetragonula biroi adalah sebagai berikut : 

Lingkungan 
         Lingkungan yang sehat, kaya vegetasi, dan bebas dari bahan kimia berbahaya adalah kunci untuk budidaya lebah Trigona yang berkelanjutan. Beberapa faktor lingkungan yang perlu diperhatikan :
- Ketinggian tempat 
         Lebah trigona tetragonula biroi mampu beradaptasi dari 0 mdpl hingga 800 mdpl, sehingga pada kisaran ini semua lokasi dapat dimanfaatkan, baik pemukiman, perkebunan ataupun lokasi hutan. Namun sebaiknya untuk lokasi budidaya itu pada kisaran 50 mdpl – 200 mdpl.
- Intensitas Cahaya Matahari 
         Lokasi pengembangan budidaya sebaiknya memiliki intensitas cahaya matahari, Intensitas cahaya matahari memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas dan produktivitas lebah Trigona. Intensitas cahaya matahari berpengaruh langsung terhadap aktivitas lebah pekerja keluar masuk sarang. Aktivitas tertinggi biasanya terjadi pada siang hari ketika intensitas cahaya dalam keadaan optimal. Cahaya matahari memicu lebah Trigona untuk beraktivitas mencari pakan berupa nektar dan polen dari tanaman sekitar, serta mencari getah/resin untuk material sarang. 
- Suhu dan Kelembaban 
        Suhu dan kelembaban udara memengaruhi perilaku harian lebah, seperti pencarian makan. Lebah Trigona umumnya menyukai habitat yang teduh namun tetap mendapatkan cahaya matahari yang cukup, karena suhu yang terlalu panas dapat mengganggu aktivitas koloni. 

Vegetasi 
        Dalam menentukan lokasi budidaya vegetasi menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pengembangan lebah trigona. Ketersediaan tanaman penghasil nektar, polen, dan getah sangat krusial. Tanaman seperti mangga, nangka, jambu, dan air mata pengantin dapat meningkatkan produktivitas. Keberadaan hutan mangrove juga memberikan sumber pakan melimpah. 

Keamanan 
        Faktor keamanan juga sangan mempengaruhi keberhasilan pengembangan budidaya lebah trigona, meskipun faktor keamanan ini dampaknya sangak kecil. Serangan dari musuh alami lebah itu sendiri seperti semut, laba-laba, cecak atau sejenisnya itu tdak terelalu berdampak jika kondisi koloni lebah itu sudah mapan, namun gangguan yang serius itu sesungguhnya ada pada aktivitas manusia di sekitarnya serta serangan hewan buas atau pemangsa koloni.

Sabtu, 28 Maret 2026

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK TRIGONA BIROI (ENDEMIK SULAWESI)

 Tetragonula Biroi adalah lebah tanpa sengat (stingless bee) endemik   Sulawesi yang aktif, produktif, dan agresif. Termasuk dalam suku   Meliponini, sering dibudidayakan karena kemampuan adaptasinya yang   tinggi, mulai dari pesisir hingga pegunungan. 
 Berikut adalah klasifikasi ilmiah Tetragonula biroi: 
 • Kingdom: Animalia 
 • Phylum: Arthropoda 
 • Class: Insecta 
 • Order: Hymenoptera  
 • Family: Apidae 
 • Subfamily: Apinae 
 • Tribe: Meliponini 
 • Genus: Tetragonula (sebelumnya dikelompokkan dalam Trigona) 
 • Species: Tetragonula biroi (Friese, 1898) 


Sedangkan Harjanto (2020), menyatakan bahwa klasifikasi lebah Trigona biroi (stinglees bee). Adalah sebagai berikut : 
- Kingdom : Animalia 
- Filum : Arthropoda 
- Kelas : Insecta 
- Ordo : Hymenoptera 
- Famili : Apidae 
- Tribus : Meliponini 
- Genus : Tetragonula 
- Species : Tetragonula biroi
Lebah Trigona biroi merupakan serangga kecil dengan ciri fisik berwarna hitam, panjang tubuh berkisar antara 3-4 mm, dan rentang sayap 8 mm (Surata, 2017). Lebah pekerja memiliki kepala besar dan rahang panjang. Sedangkan lebah ratu berukuran 3-4 kali dari ukuran lebah pekerja, berwarna kecoklatan, perut besar mirip laron, dan mempunyai sayap pendek. Lebah ini tidak mempunyai sengat (stingless bee). Produksi dan perkembangan dari lebah Trigona biroi ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi ketinggian tempat, suhu, kelembaban udara, dan curah hujan. Ketersediaan pakan menjadi peran penting dalam keberhasilan budidaya ternak lebah Trigona (Dewantari dan Suranjaya, 2019). Untuk meningkatkan produksi madu selain faktor yang dijelaskan sebelumnya, kebersihan keamanan stup, penerapan teknik budidaya lebah yang baik, serta pengendalian hama dan penyakit lebah sangat berkaitan terhadap kuantitas mupun kualitas produksi madu. Lebah tanpa sengat ini tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga propolis yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi (Dewantari dan Suranjaya, 2019). 
Karakteristik Tambahan: 
• Adaptasi: Mampu beradaptasi di dataran rendah hingga tinggi (10–1200 mdpl). 
• Perilaku: Sangat aktif, agresif, dan penghasil madu yang baik. 
• Ciri Fisik: Mirip dengan T. laeviceps namun sedikit lebih kecil, thorax belakang berbulu, dan mengeluarkan bau khas. \
• Vegetasi: Tidak pilih-pilih makanan (polifag) dan menyukai getah pinus 
• Fisik & Karakteristik: 
   o Warna: Hitam pekat. 
   o Ukuran: Kecil 
   o Thorax: Bagian belakang thorax sedikit berbulu. 
   o Perilaku: Sangat aktif, produktif, dan agresif terhadap pengganggu dibandingkan jenis Trigona lain. 
   o Sengat: Tidak memiliki sengat (stingless), namun tetap menggigit dengan rahang. 
   o Sarang: Membangun corong masuk sarang keras, berbentuk terompet, dan biasanya berwarna gelap.    
   o Reproduksi: Telur diletakkan dalam pola spiral. 
• Budidaya & Habitat: 
   o Ketinggian: Adaptif mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1200 mdpl. 
   o Pakan: Sangat adaptif dan tidak pilih-pilih vegetasi, lebih bagus jika dekat dengan sumber getah/resin (seperti pinus). 
   o Penanganan: Membutuhkan jarak antar kotak budidaya (stup) untuk mencegah perkelahian antar koloni. 
• Produk Koloni: 
  o Madu: Menghasilkan madu dengan rasa khas dan kualitas tinggi, meskipun produktivitasnya berbeda tergantung musim. 
  o Propolis: Menghasilkan propolis lebih banyak, yang bernilai ekonomi tinggi. 
• Keunggulan: 
  o Tidak perlu diberi makan gula (sangat mandiri). 
  o Tahan banting (mudah dirawat). Lebah ini sangat cocok untuk budidaya rumahan atau skala profesional karena adaptabilitasnya yang tinggi

Kamis, 26 Maret 2026

MENGENAL LEBAH TRIGONA

Trigona adalah salah satu genus lebah tanpa sengat terbesar, secara eksklusif terdapat di Dunia Baru, dan sebelumnya mencakup lebih banyak subgenus daripada kumpulan saat ini; banyak dari subgenera sebelumnya telah diangkat ke status generik (https://id.wikipedia.org/wiki/Trigona). 
Lebah Trigona umumya dikenal masyarakat sesuai dengan wilayah dan daerah masing-masing. Umumnya Lebah Trigona dikenal dengan sebutan Klanceng atau Kelulut, namun sebagian wilayah menggunakan bahasa daerah masing-masing untuk menamakan lebah trigona tersebut. Untuk Sulawesi Selatan khusunya Luwu Raya Lebah Trigona dikenal dengan sebutan Emmu atau Kammu. Penelitian menunjukkan bahwa ada hampir lima ratus spesies Lebah Madu Trigona yang tersebar di seluruh dunia. Yang mudah dikenali adalah Trigona ltama, Trigona scaptotrigona, Trigona laeviceps, Trigona apicalis dan Trigona thorasica. Lebah Madu Trigona banyak ditemukan di kawasan tropis atau subtropis diantaranya Australia , Afrika, Asia Tenggara dan kawasan Amerika Tropis. Indonesia memiliki lebih dari 37 jenis lebah Trigona (lebah tanpa sengat/klanceng) yang tersebar di hutan tropis, dengan beberapa jenis populer dibudidayakan untuk madu dan propolis berkualitas tinggi, seperti , Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Lepidotrigona terminata, Tetragonula Biroi, Trigona Sapiens, Trigona apicalis dan T. fuscobalteata. Untuk wilayah Sulawesi Selatan, terdapat beberapa jenis lebah yang sering di Budidayakan diantanya, Tetragonula Biroi, Trigona Sapiens dan Trigona Incisa. Lebah ini sangat potensial dibudidayakan karena kemampuannya beradaptasi di lingkungan hutan hingga pemukiman serta tergolong mudah dalam penanganannya.