Sabtu, 28 Maret 2026

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK TRIGONA BIROI (ENDEMIK SULAWESI)

 Tetragonula Biroi adalah lebah tanpa sengat (stingless bee) endemik   Sulawesi yang aktif, produktif, dan agresif. Termasuk dalam suku   Meliponini, sering dibudidayakan karena kemampuan adaptasinya yang   tinggi, mulai dari pesisir hingga pegunungan. 
 Berikut adalah klasifikasi ilmiah Tetragonula biroi: 
 • Kingdom: Animalia 
 • Phylum: Arthropoda 
 • Class: Insecta 
 • Order: Hymenoptera  
 • Family: Apidae 
 • Subfamily: Apinae 
 • Tribe: Meliponini 
 • Genus: Tetragonula (sebelumnya dikelompokkan dalam Trigona) 
 • Species: Tetragonula biroi (Friese, 1898) 


Sedangkan Harjanto (2020), menyatakan bahwa klasifikasi lebah Trigona biroi (stinglees bee). Adalah sebagai berikut : 
- Kingdom : Animalia 
- Filum : Arthropoda 
- Kelas : Insecta 
- Ordo : Hymenoptera 
- Famili : Apidae 
- Tribus : Meliponini 
- Genus : Tetragonula 
- Species : Tetragonula biroi
Lebah Trigona biroi merupakan serangga kecil dengan ciri fisik berwarna hitam, panjang tubuh berkisar antara 3-4 mm, dan rentang sayap 8 mm (Surata, 2017). Lebah pekerja memiliki kepala besar dan rahang panjang. Sedangkan lebah ratu berukuran 3-4 kali dari ukuran lebah pekerja, berwarna kecoklatan, perut besar mirip laron, dan mempunyai sayap pendek. Lebah ini tidak mempunyai sengat (stingless bee). Produksi dan perkembangan dari lebah Trigona biroi ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi ketinggian tempat, suhu, kelembaban udara, dan curah hujan. Ketersediaan pakan menjadi peran penting dalam keberhasilan budidaya ternak lebah Trigona (Dewantari dan Suranjaya, 2019). Untuk meningkatkan produksi madu selain faktor yang dijelaskan sebelumnya, kebersihan keamanan stup, penerapan teknik budidaya lebah yang baik, serta pengendalian hama dan penyakit lebah sangat berkaitan terhadap kuantitas mupun kualitas produksi madu. Lebah tanpa sengat ini tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga propolis yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi (Dewantari dan Suranjaya, 2019). 
Karakteristik Tambahan: 
• Adaptasi: Mampu beradaptasi di dataran rendah hingga tinggi (10–1200 mdpl). 
• Perilaku: Sangat aktif, agresif, dan penghasil madu yang baik. 
• Ciri Fisik: Mirip dengan T. laeviceps namun sedikit lebih kecil, thorax belakang berbulu, dan mengeluarkan bau khas. \
• Vegetasi: Tidak pilih-pilih makanan (polifag) dan menyukai getah pinus 
• Fisik & Karakteristik: 
   o Warna: Hitam pekat. 
   o Ukuran: Kecil 
   o Thorax: Bagian belakang thorax sedikit berbulu. 
   o Perilaku: Sangat aktif, produktif, dan agresif terhadap pengganggu dibandingkan jenis Trigona lain. 
   o Sengat: Tidak memiliki sengat (stingless), namun tetap menggigit dengan rahang. 
   o Sarang: Membangun corong masuk sarang keras, berbentuk terompet, dan biasanya berwarna gelap.    
   o Reproduksi: Telur diletakkan dalam pola spiral. 
• Budidaya & Habitat: 
   o Ketinggian: Adaptif mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1200 mdpl. 
   o Pakan: Sangat adaptif dan tidak pilih-pilih vegetasi, lebih bagus jika dekat dengan sumber getah/resin (seperti pinus). 
   o Penanganan: Membutuhkan jarak antar kotak budidaya (stup) untuk mencegah perkelahian antar koloni. 
• Produk Koloni: 
  o Madu: Menghasilkan madu dengan rasa khas dan kualitas tinggi, meskipun produktivitasnya berbeda tergantung musim. 
  o Propolis: Menghasilkan propolis lebih banyak, yang bernilai ekonomi tinggi. 
• Keunggulan: 
  o Tidak perlu diberi makan gula (sangat mandiri). 
  o Tahan banting (mudah dirawat). Lebah ini sangat cocok untuk budidaya rumahan atau skala profesional karena adaptabilitasnya yang tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar