Selasa, 31 Maret 2026

MEMBUAT DAN MEMILIH STUP BUDIDAYA LEBAH TRIGONA

Pengembangan budidaya lebah madu merupakan aktivitas pemeliharaan dan pengelolaan lebah dengan tujuan menghasilkan produk lebah sesuai harapan peternak. Dalam budidaya, selain lokasi dan ketersediaan pakan, stup menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Kotak lebah atau stup adalah salah satu peralatan utama dalam budidaya madu.

Lebah madu yang dibudidayakan membutuhkan sarang buatan sebagai tempat perlindungan dan tempat berkembang biak bagi koloni. Sarang buatan ini digunakan untuk membangun sarang, menaruh telur hingga menetas, merawat lebah muda, serta menyimpan cadangan makanan. Kondisi sarang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup lebah. Pembuatan stup dimulai dengan menyesuaikan bentuknya agar menyerupai sarang alami yang dibuat oleh lebah. Secara alami, lebah trigona biasanya bersarang di batang pohon atau bambu. Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan budidaya lebah trigona, sarang alami ini diadopsi dengan membuat sarang buatan menggunakan bahan dasar papan kayu atau bambu. Prinsip dalam pembuatan stup adalah menciptakan rumah atau sarang lebah yang senyaman mungkin agar lebah merasa betah dan proses pemanenan madu menjadi lebih mudah.

Model stup budidaya yang bisa digunakan secara umum terbagi 2 (dua), yaitu stup alami dan buatan. Kedua stup ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

1.         Stup Alami

Stup alami pada dasarnya adalah sarang lebah trigona yang diambil dialam, jadi tidak mengubah sarang labah tersebut, hanya merapikan model dan/atau memperbaikinya sesuai ukuran yang kita inginkan. Stup alami ini biasanya dari pohon kayu, kepala atau bambu yang merupakan habitat alami lebah trigona.

Stup yang diambil dari alam dirapikan atau dipotong sesuai ukuran yang kita inginkan. Sebaiknya tinggi stup 30 – 50 cm. Upayakan bagian atas stup dipasangkan toping agar lebih memudahkan dalam proses pemanenan.

2.         Stup Buatan

Stup buatan pada dasarnya adalah sarang lebah trigona yang dibuat sesuai keinginan, biasanya terbuat dari pohon (kayu bulat), papan/tripleks, Bambu, paralon dan lain-lain.

-          Pohon/Kayu bulat

Stup ini tergolong mudah dan murah dalam pembuatannya. Pohon atau kayu bulat dapat kita peroleh di alam, dengan ukuran dan model bervariasi. Dalam pemilihan bahan ini, sebaik kita ambil pohon atau kayu bulat dengan ukuran panjang 30 – 50 cm dengan diameter 20 – 25 cm.

Pohon atau kayu yang diambil kemudian di buat lubang pada bagian tengahnya, sebagia tempat lebah menyimpan telur, madu dan sebagainya. Setelah pohon atau kayu telah lubang, kebudian dibuatkan lubang kecil seukuran jari telunjuk pada bagian samping, sebagai pintu masuk keluar masuknya lebah. Posisi lubang keluar masuk ini dapat dibuat dibagian mana saja sesuai keinginan kita, dengan tetap memperhatikan nilai estetika.

-          Bambu

Pembuatan stup dari pohon bambu ini, tergolong sangat mudah, karena kita tinggal mengambil bambu sesuai dengan ukuran yang kita inginkan. Cara membuatnya pun tidak memerlukan keahlian khusus, kita tinggal memotong ruas bagian atas dan bawahnya, kemudian diberi lubang sebesar jari telunjuk pada bagian sisinya, sebagai tempat keluar masuknya lebah nanti pada saat dibudidaya.

-          Paralon

Pembuatan stup dari bahan paralon ini hampir sama dengan pembuatan stup dari bambu, kita tinggal memotong paralon sesuai dengan ukuran yang kita inginkan. Hanya saja pada bagian bawah sebaiknya di tutup menggunakan papan atau tripleks.

-          Papan/Tripleks

Penggunaan stup dari bahan kayu dan tripleks ini yang paling banyak di minati oleh para pecinta lebah trigona, karena model dan ukurannya dapat dibentuk sesuai selera kita. Ada beberapa model yang sering digunakan dalam pembuatan stup dari bahan kayu atau tripleks ini, antara lain :

1.       Model Horisontal

Model ini paling banyak digunakan oleh para pembudidaya lebah trigona, karena tidak memerlukan banyak tempat dan mudah di letaknya dimana saja. Ukuran kotanya pun bervariasi sesuai keinginan kita masing-masing. Kelebihan dari model ini, koloni lebah budidaya lebih mudah untuk di kontrol, sehingga kita dapat melihat dan mengetahui kondisi lebah trigona.

2.       Model Vertikal

Model ini juga tergolong banyak diminati oleh para pembudidaya lebah, karena lebih mudah dalam pemanenan madu nantinya. Cuma pada bagian atasnya sebaiknya dibuatkan semacam toping, agar lebih mudah pengontrolannya.

3.       Model Vertikal Susun

Model ini mirip dengan model vertikal, Cuma stup ini dibuat bersusun 2 atau 3, sehingga dinamakan vertikal susun. Stup model ini sangat cocok digunakan dilokasi dekat dengan hutan atau lokasi yang jarak jauh dari tempat tinggal kita. Stup ini tergolong susah dalam pengontrolannya. Kelebihan dari model ini akan mempermudah pembudidaya dalah melakukan pecah koloni nantinya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar