Pengembangan budidaya lebah madu merupakan aktivitas pemeliharaan dan pengelolaan lebah dengan tujuan menghasilkan produk lebah sesuai harapan peternak. Dalam budidaya, selain lokasi dan ketersediaan pakan, stup menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Kotak lebah atau stup adalah salah satu peralatan utama dalam budidaya madu.
Lebah madu yang dibudidayakan
membutuhkan sarang buatan sebagai tempat perlindungan dan tempat berkembang
biak bagi koloni. Sarang buatan ini digunakan untuk membangun sarang, menaruh
telur hingga menetas, merawat lebah muda, serta menyimpan cadangan makanan.
Kondisi sarang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup lebah. Pembuatan
stup dimulai dengan menyesuaikan bentuknya agar menyerupai sarang alami yang
dibuat oleh lebah. Secara alami, lebah trigona biasanya bersarang di batang
pohon atau bambu. Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan budidaya lebah
trigona, sarang alami ini diadopsi dengan membuat sarang buatan menggunakan
bahan dasar papan kayu atau bambu. Prinsip dalam pembuatan stup adalah
menciptakan rumah atau sarang lebah yang senyaman mungkin agar lebah merasa
betah dan proses pemanenan madu menjadi lebih mudah.
Model stup budidaya yang bisa
digunakan secara umum terbagi 2 (dua), yaitu stup alami dan buatan. Kedua stup
ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
1.
Stup Alami
Stup alami pada dasarnya adalah sarang lebah trigona
yang diambil dialam, jadi tidak mengubah sarang labah tersebut, hanya merapikan
model dan/atau memperbaikinya sesuai ukuran yang kita inginkan. Stup alami ini
biasanya dari pohon kayu, kepala atau bambu yang merupakan habitat alami lebah
trigona.
Stup yang diambil dari alam dirapikan atau dipotong
sesuai ukuran yang kita inginkan. Sebaiknya tinggi stup 30 – 50 cm. Upayakan
bagian atas stup dipasangkan toping agar lebih memudahkan dalam proses
pemanenan.
2.
Stup Buatan
Stup buatan pada dasarnya adalah sarang lebah trigona
yang dibuat sesuai keinginan, biasanya terbuat dari pohon (kayu bulat),
papan/tripleks, Bambu, paralon dan lain-lain.
-
Pohon/Kayu bulat
Stup ini tergolong mudah dan murah dalam pembuatannya.
Pohon atau kayu bulat dapat kita peroleh di alam, dengan ukuran dan model
bervariasi. Dalam pemilihan bahan ini, sebaik kita ambil pohon atau kayu bulat
dengan ukuran panjang 30 – 50 cm dengan diameter 20 – 25 cm.
Pohon atau kayu yang diambil kemudian di buat lubang
pada bagian tengahnya, sebagia tempat lebah menyimpan telur, madu dan
sebagainya. Setelah pohon atau kayu telah lubang, kebudian dibuatkan lubang
kecil seukuran jari telunjuk pada bagian samping, sebagai pintu masuk keluar
masuknya lebah. Posisi lubang keluar masuk ini dapat dibuat dibagian mana saja
sesuai keinginan kita, dengan tetap memperhatikan nilai estetika.
-
Bambu
Pembuatan stup dari pohon bambu ini, tergolong sangat
mudah, karena kita tinggal mengambil bambu sesuai dengan ukuran yang kita
inginkan. Cara membuatnya pun tidak memerlukan keahlian khusus, kita tinggal
memotong ruas bagian atas dan bawahnya, kemudian diberi lubang sebesar jari
telunjuk pada bagian sisinya, sebagai tempat keluar masuknya lebah nanti pada
saat dibudidaya.
-
Paralon
Pembuatan stup dari bahan paralon ini hampir sama dengan
pembuatan stup dari bambu, kita tinggal memotong paralon sesuai dengan ukuran
yang kita inginkan. Hanya saja pada bagian bawah sebaiknya di tutup menggunakan
papan atau tripleks.
-
Papan/Tripleks
Penggunaan stup dari bahan kayu dan tripleks ini yang
paling banyak di minati oleh para pecinta lebah trigona, karena model dan
ukurannya dapat dibentuk sesuai selera kita. Ada beberapa model yang sering
digunakan dalam pembuatan stup dari bahan kayu atau tripleks ini, antara lain :
1.
Model Horisontal
Model ini paling banyak digunakan oleh para
pembudidaya lebah trigona, karena tidak memerlukan banyak tempat dan mudah di
letaknya dimana saja. Ukuran kotanya pun bervariasi sesuai keinginan kita
masing-masing. Kelebihan dari model ini, koloni lebah budidaya lebih mudah
untuk di kontrol, sehingga kita dapat melihat dan mengetahui kondisi lebah
trigona.
2.
Model Vertikal
Model ini juga tergolong banyak diminati oleh para
pembudidaya lebah, karena lebih mudah dalam pemanenan madu nantinya. Cuma pada
bagian atasnya sebaiknya dibuatkan semacam toping, agar lebih mudah
pengontrolannya.
3.
Model Vertikal Susun
Model ini mirip dengan model vertikal, Cuma stup ini dibuat
bersusun 2 atau 3, sehingga dinamakan vertikal susun. Stup model ini sangat
cocok digunakan dilokasi dekat dengan hutan atau lokasi yang jarak jauh dari tempat
tinggal kita. Stup ini tergolong susah dalam pengontrolannya. Kelebihan dari
model ini akan mempermudah pembudidaya dalah melakukan pecah koloni nantinya.

.jpeg)




